Ini kisah di Dunkin Donuts Giant Ciledug.
Sepulang dari Masjid Pondok Indah menghadiri undangan nikah seorang teman Sabtu kemarin, saya dengan menahan nyeri di kaki gara-gara pakai sepatu pesta (halah, sepatu abal-abal, makanya kaki sakit!), mampir ke Giant Ciledug. Tujuannya satu, beli donat yang saya janjikan pada Fathia demi meredam rengekannya ikut saya pagi tadi. Bukannya saya gak mau kelihatan masih single available menolak membawa anak umur 3,5 tahun ke walimahan. Bukan juga karena saya mau menikmati hari itu untuk hunting makan dari gubuk ke gubuk tanpa diribeti urusan anak. Yah, hanya karena saya sedang irit bin pelit mencoba-coba naik angkutan umum dimana saya masih meraba-raba bis nomor berapa yang harus saya naiki untuk menuju ke sana :P
Back to donut.
Saya pesan setengah lusin donat, saja. Demi mendengar 40.000, saya menengok kiri kanan mencari tau kepada siapa mbak cantik itu berbicara. Saya tanya lagi, berapa mbak? Masih sama, 40.000. Bukannya 20.900, saya bertanya sambil menunjuk papan harga. Oh, itu buat minis, muchkins, whatever, saya blank. Oooh... Selanjutnya saya masih terbengong-bengong melihat si mbak memasukkan kalender dan si mas memberikan hot coffee buat saya, bonus katanya. Wow, what a service, batin saya, masih diliputi tanda tanya kenapa dunkin setengah lusin harganya bersaing dengan J.Co satu lusin...
Mengambil tempat di pojok, saya menikmati kopi hitam bonus dari si mas tadi. Tapi masih penasaran... Akhirnya saya lihat kembali struknya. Tertulis: 1/2 DZ CL + 1 CAL '08 39.900. Oooh... OK, saya yang lemot ini akhirnya sadar, kalender itu bukan compliment! Kopi pun mungkin hanya pengalih perhatian? Dan saya baru sadar bahwa saya salah liat, untuk setengah lusin donat harganya 24.900, jadi tadi saya salah tunjuk. Berusaha tetap tenang, sambil menahan sakit di kaki, saya mendatangi mbak cantik tadi. Bla bla bla saya jelaskan bahwa saya tidak merasa memesan kalender sambil saya tunjukkan struknya. Dia balik bertanya tadi dilayani sama siapa? Ya sama mbak, saya jawab sambil berusaha tersenyum tidak mau ribut-ribut. Rupanya si mbak juga gak mau ribut-ribut, dia menawarkan kalender dikembalikan dan saya menerima kembali uang seharga kalender. Ya, saya hanya mau itu. Jreng, 15.000 kembali. Just like that, dia mengambil 15.000 dari cash register dan memberikannya pada saya. Saya pun pulang dengan bangga telah mempertahankan 15.000 harta saya... :)
What the hell just happened in there? Mungkinkah mereka mencoba memanfaatkan kelengahan pembeli? Tidak menunggu pembeli minta kalender tapi langsung memasukkannya ke kantong belanja lalu menagihnya kepada pembeli? Atau mungkin ini hanya kesalahpahaman, si mbak mengira saya memesan kalender? Tapi kenapa saya diberi bonus kopi? Apakah saya sekedar beruntung?
Anyway, saya hanya berjanji pada diri untuk lebih cermat pada struk belanja saya, cerewet sama kasir bila perlu. Gapapa kan tanya-tanya terus, asal caranya ga bikin be te orang yang ditanya? :)
Picture is taken from here.



