Tuesday, December 4

Dunkin Donuts di awal Desember

Mungkin saya sedang bermaksud meniru-niru Dhika dengan posting keluhan-berujung-happy-ending terhadap Samsung. Mungkin juga saya terinspirasi dengan citizen journalism di mana we - through blog - can make a difference! Atau mungkin saya hanya ingin ada posting baru mengawali Desember ini. Ya, mungkin itu...

Ini kisah di Dunkin Donuts Giant Ciledug.

Sepulang dari Masjid Pondok Indah menghadiri undangan nikah seorang teman Sabtu kemarin, saya dengan menahan nyeri di kaki gara-gara pakai sepatu pesta (halah, sepatu abal-abal, makanya kaki sakit!), mampir ke Giant Ciledug. Tujuannya satu, beli donat yang saya janjikan pada Fathia demi meredam rengekannya ikut saya pagi tadi. Bukannya saya gak mau kelihatan masih single available menolak membawa anak umur 3,5 tahun ke walimahan. Bukan juga karena saya mau menikmati hari itu untuk hunting makan dari gubuk ke gubuk tanpa diribeti urusan anak. Yah, hanya karena saya sedang irit bin pelit mencoba-coba naik angkutan umum dimana saya masih meraba-raba bis nomor berapa yang harus saya naiki untuk menuju ke sana :P

Back to donut.

Saya pesan setengah lusin donat, saja. Demi mendengar 40.000, saya menengok kiri kanan mencari tau kepada siapa mbak cantik itu berbicara. Saya tanya lagi, berapa mbak? Masih sama, 40.000. Bukannya 20.900, saya bertanya sambil menunjuk papan harga. Oh, itu buat minis, muchkins, whatever, saya blank. Oooh... Selanjutnya saya masih terbengong-bengong melihat si mbak memasukkan kalender dan si mas memberikan hot coffee buat saya, bonus katanya. Wow, what a service, batin saya, masih diliputi tanda tanya kenapa dunkin setengah lusin harganya bersaing dengan J.Co satu lusin...

Mengambil tempat di pojok, saya menikmati kopi hitam bonus dari si mas tadi. Tapi masih penasaran... Akhirnya saya lihat kembali struknya. Tertulis: 1/2 DZ CL + 1 CAL '08 39.900. Oooh... OK, saya yang lemot ini akhirnya sadar, kalender itu bukan compliment! Kopi pun mungkin hanya pengalih perhatian? Dan saya baru sadar bahwa saya salah liat, untuk setengah lusin donat harganya 24.900, jadi tadi saya salah tunjuk. Berusaha tetap tenang, sambil menahan sakit di kaki, saya mendatangi mbak cantik tadi. Bla bla bla saya jelaskan bahwa saya tidak merasa memesan kalender sambil saya tunjukkan struknya. Dia balik bertanya tadi dilayani sama siapa? Ya sama mbak, saya jawab sambil berusaha tersenyum tidak mau ribut-ribut. Rupanya si mbak juga gak mau ribut-ribut, dia menawarkan kalender dikembalikan dan saya menerima kembali uang seharga kalender. Ya, saya hanya mau itu. Jreng, 15.000 kembali. Just like that, dia mengambil 15.000 dari cash register dan memberikannya pada saya. Saya pun pulang dengan bangga telah mempertahankan 15.000 harta saya... :)

What the hell just happened in there? Mungkinkah mereka mencoba memanfaatkan kelengahan pembeli? Tidak menunggu pembeli minta kalender tapi langsung memasukkannya ke kantong belanja lalu menagihnya kepada pembeli? Atau mungkin ini hanya kesalahpahaman, si mbak mengira saya memesan kalender? Tapi kenapa saya diberi bonus kopi? Apakah saya sekedar beruntung?

Anyway, saya hanya berjanji pada diri untuk lebih cermat pada struk belanja saya, cerewet sama kasir bila perlu. Gapapa kan tanya-tanya terus, asal caranya ga bikin be te orang yang ditanya? :)

Picture is taken from here.

Friday, November 30

Great way to start a day!

As usual, no-air-conditioned-L300 arrived a few minutes before 6.00 at my stop. Great, the back sit is empty which means I can lose my feet enjoying music from my nokia-I-don't-know-which-series.

About 6.30... we got stuck in Tomang free way.

An hour later...

There we were, still in the free way. Some free way they said!

Ow, it was because an accident between trailers. The radio said that it happened at 4.00. Now it's almost 8.00.

Escape from traffic jam, just after the interview with traffic management who explain what caused the disaster this morning, Kis played this song:
Sleeping in my car, I will undress you
Sleeping in my car, I will caress you
Staying in the backseat of my car making love, oh yeah
Sleeping in my car, I will possess you
Sleeping in my car, certainly bless you
Laying in the backseat of my car making up

Hahaha... :)

Wednesday, November 28

Balada si Kis

Mendengar kata Kis, selain ingat Fathia dan suami saya, hehe, yang terlintas di benak saya adalah wednesday slow machine... Salah satu program di Kis FM setiap hari Rabu yang khusus memutar lagu-lagu slow jadul. Memang, Kis FM senantiasa jadi soundtrack saat saya duduk manis setengah tertidur di mobil jemputan L300 pada pagi hari jam 6 dan sore hari jam 5, dan Rabu, menjadi hari favorit saya.

Menjelang akhir tahun ini teman-teman di kantor pun sedang mencandu Kis. Bukan Kis FM, tapi Kis mint. Itu, permen Kis yang dulu terkenal dengan iklan dingin-dingin empuk-nya. Saya bukan penggemar permen dan tidak pernah membelinya, kecuali Froz yang sekedar jadi penyegar nafas setelah makan atau minum kopi. Jadi saya tidak pernah mengikuti perkembangan trend permen di tanah air (halah!).

Mengapa akhir tahun? Karena menjelang akhir tahun ini ketika sebagian besar instansi sedang berlomba-lomba meningkatkan penyerapan anggaran alias ngabis-ngabisin duit, hotel bintang 3 laku keras. Dari hotel ke hotel, konsinyering digelar sejak usai liburan Idul Fitri sampai dengan tahun 2007 berakhir. Dan di situlah, di Hotel Cemara dekat stasiun Gondangdia yang jadi hotel favorit para commuter Jakarta - Depok, ceritanya bermula.

Hotel Cemara menyediakan permen Kis sebagai kudapan di ruang rapat, selain snack, teh, dan kopi tentunya. Dan di situlah saya baru tau kalau pada bungkus permen Kis terdapat ungkapan-ungkapan lucu. Dari I miss You, Me Too, Cape deh, Silent is Golden, Nyantai aja, Hebat!, Coba lagi, Kok telat?, dan seterusnya dan seterusnya. Maka ketika kami diserang rasa penat dan jenuh di tengah diskusi yang seringkali alot, saling bertukar permen Kis jadi penghibur kami, dan terbukti jadi pencair suasana ketika ada pihak yang mulai ngotot :)

Maka ketika pagi ini di atas keyboard saya temukan dua permen Kis dengan kata-kata "Beribu Maaf" dan "Senyum donk", saya tergelak tak dapat menahan tawa, sambil berpikir memang kemarin saya sempat marah sama siapa ya???

PS. Dear bro, my reaction to you yesterday is merely because I care about you. I always consider us in this serious look-but crazy inside-room as a team. Your ignorance against yesterday's event is hurting me. Peace! :)

Picture is taken from here

We are what we choose

Seorang adik datang pada saya dengan kebimbangannya. Ceritanya dia sedang menunggu SK kepindahannya ke suatu unit eselon 1 baru di departemen ini. Keberhasilannya pindah berkat persinggungannya dengan seorang pejabat eselon 2 di lift pada suatu siang. Just like that, the next thing he knows namanya termasuk dalam daftar nama mereka yang alih tugas - demikian di sini disebutnya.

Namanya birokrasi, kepindahan pegawai tidak bisa serta merta begitu saja. Masih ada proses pembuatan SK yang sebenarnya bisa sehari jadi, tapi si pejabat yang tanda tangan kan bukan itu saja pekerjaannya. Sementara si adik ini berkat kesupelannya sudah "beredar" di eselon 1 tempatnya bertugas kelak.

Dia datang pada saya. Berkata bahwa dirinya ditawarkan untuk ditempatkan di bagian sekretariat, padahal si pejabat yang mengajaknya dulu, menarik dia dengan maksud untuk bekerja di unit teknis yang beliau pimpin. Lalu mengapa bimbang?

Menurutnya, kalau di sekretariat, ada saja rejekinya, apalagi bila unit-unit teknis itu sedang konsinyering. Sudah menjadi hal biasa bahwa ketika unit teknis konsinyering pasti memasukkan satu dua nama orang bagian sekretariat demi kelancaran administrasi. Itulah privilege mereka bagian sekretariat. Bayangkan bila dalam suatu eselon 1 terdapat 6 unit eselon 2 yang dibagi lagi masing-masing terdapat 5 unit eselon 3! Haha soal rejeki rupanya...! Tidak berbeda dengan bagian pengadaan, yang bisa dibilang rejekinya datang dari pemasok. Mungkin tidak seberapa kalau pengadaan ATK, tapi kalau pengadaan mobil? Haha, entahlah, saya belum pernah bertugas di bagian-bagian tersebut. Itu hanya selentingan-selentingan yang tidak pernah saya cek kebenarannya. Monggo dikoreksi...

Anyway, pekerjaan sekretariat - menurut saya - memerlukan ketekunan dan dedikasi tinggi demi mengurus bagian internal supaya tidak kacau balau, dan tentu saja demi mendukung kerja unit teknis. Tidak ada yang lebih baik, keduanya sama, tergantung pada minat dan keahlian tiap orang. Saya percaya bahwa kita sudah punya bidang dan keahliannya masing-masing. Dan sebaik-baiknya pekerjaan, serahkan saja pada ahlinya. Sedangkan untuk kasus si adik, saya mengakui kemampuan dan keluwesannya untuk pekerjaan sekretariat. Serahkan pada dia, pasti beres. Sedangkan untuk pekerjaan teknis, dia gak jelek-jelek amat. Dia masih sangat muda, jalannya masih panjang sekali dan untuk masalah kemampuan di bagian teknis, hal tersebut bisa diasah. Saya sebenarnya mengharapkan dia memilih bidang teknis, lebih kepada memberikan landasan yang kuat pada karakternya kelak.

Mendengar alasan si adik, saya yang kebetulan sedang membuka igoogle mendapati inspirational quote dari J.K Rowling: It is our choices...that show what we truly are, far more than our abilities. Akhirnya saya hanya bisa bilang padanya, "itu tergantung sama pilihan kamu, istilah kasarnya hidup dari konsinyering, do you want a life like that?"

Picture is taken from here

Monday, November 5

Atasan vs bawahan

Siapa harus ngertiin siapa?

Pertanyaan itu timbul dalam benak saya ketika mendengar percakapan 2 orang teman. Yang satu mengeluhkan bahwa dirinya sebagai bawahan merasa telah all out bekerja dan sang atasan tanpa kontribusi apa-apa tinggal tanda tangan. Lalu kamu berharap bagaimana?, penasaran saya ikut nimbrung. Ya yang namanya atasan kan dia yang seharusnya mengarahkan saya, memberikan kepada saya konsep apa saja yang harus saya lakukan, arahnya ke sini atau ke sana. Istilahnya dialah otaknya, saya ya sesuai jabatan yang saya sandang saat ini, pelaksana!, demikian jawabnya. Yah maksud kamu sesuai juga dengan gaji kamu kan? hehe, saya mencoba mencairkan suasana. Memang, ketika reformasi birokrasi dimulai dan salah satu efeknya adalah kenaikan remunerasi pegawai di departemen kami, isu atasan, bawahan, belum lagi grade, jadi perbincangan hangat yang gak habis-habis.

Kembali ke siapa harus ngertiin siapa?

Teman kedua menimpali, ya kalau begitu kan kamu aja yang pintar-pintar memposisikan diri. Kalau memang dia gak pernah kasih konsep, buat oret-oretan konsep kamu, tanya pendapatnya. Kalau mau jahil, buat seasal-asalnya, biar dia juga ikut mikir. Tapi sebenernya kalau kamu bisa buat konsep yang bagus, kan ada kepuasan batin juga, iya gak?!
Saya hanya manggut-manggut mengamini uraiannya. Kalau sudah masalah kepuasan batin, sulit diukur sama saldo di rekening remunerasi. Falsafah rezeki sudah ada yang mengatur jadi penghibur, kalau tidak dapat disebut pembenaran.

Lalu, dimana bagian siapa harus ngertiin siapa?

Teman pertama seperti gak mau kalah melanjutkan, kamu sih enak... kompak banget sama atasan, kayaknya ga ada masalah tuh.
Sontan sang teman tertawa... lah... itu kan saya yang harus berjuang keras mendapat kepercayaannya! Saya dan teman-teman saya yang harus menyesuaikan diri dengan dia, bukan dia yang berusaha ngertiin kami... Yah ga usah dimasukin ke hati lah... it's just a job... Kalau mau nyakit-nyakitin diri sendiri sih bisa aja... kalau membandingkan sama atasan sebelumnya... dia kalau nyuruh saya haluuuusss banget... mbak, mas, bos, tolong ya saya dibuatkan ini... mbak, mas, bos, tolong jangan lupa ya, nanti ada ini... sedangkan yang sekarang?!, dia tidak melanjutkan.

Hening...
Mungkin saya yang terlalu membesar-besarkan masalah ini. Bagi saya, menjadi atasan adalah suatu amanat, bukan hadiah apalagi hak. Di situ diletakkan beban tidak hanya pekerjaan, namun juga anak buah yang nota bene manusia. Menurut saya, manusia inilah yang paling berat pertanggungjawabannya. Idealnya di bayangan saya, seorang atasan itu layaknya koordinator tanpa harus bersikap bossy. Dia mampu merangkul dan memotivasi anak buahnya untuk bekerja layaknya sebuah tim. Bahwa bila pekerjaan ini selesai dengan sukses, ini adalah kerja keras kita semua, dan dia sebagai seorang pimpinan akan memastikan bahwa seluruh anak buahnya yang telah berkontribusi itu menerima reward-nya - dalam bentuk apapun itu. Wah wah wah... ideal sekali! Hehe, saya memang senang berkhayal.

Ndilalah keesokan harinya saya mendengar perbincangan dua seorang senior. Tidak perlu diceritakan panjang lebar di sini karena saya harus mulai kerja, namun kesimpulannya... Orang pintar dengan gelar S3 belum tentu punya kemampuan manajerial yang baik terhadap anak buah. Dia bisa jadi lebih unggul dalam menyelesaikan pekerjaannya. Namun kemampuan membina, merangkul, dan memotivasi anak buah itu lebih pada kemampuan bawaan sejak lahir yang terus diasah dengan pengalaman.

Hmmm... nyambung gak sih potongan-potongan percakapan di atas?
Mungkin memang gak nyambung, tapi kalau boleh saya tarik hikmahnya (walaupun maksa!) :

1. Amanat sebagai atasan itu bukan berarti kamu bisa nyuruh-nyuruh anak buah seenaknya. Komunikasi itu penting, apa salahnya sih duduk bersama dengan anak buah ngobrol apa yang menjadi tujuan bersama. Let them know bahwa kamu sangat menghargai setiap upaya mereka. Let them see bahwa kamu yang in charge - bukan dengan kata-kata, tapi dengan sikap yang tegas namun bersahaja (ini dari sudut pandang pengalaman saya sebagai bawahan, karena belum pernah jadi atasan. Memang, berpendapat itu memang gampang, tidak seperti pelaksanaannya!).

2. Kemampuan manajerial itu bisa diasah. Please, atasan, dengan jumlah remunerasi yang kamu terima demikian jauh di atas kami, modal sedikit lah untuk meningkatkan kemampuan itu, terutama dalam hal manajemen manusia.

3. Jadi, siapa harus ngertiin siapa? Sama-sama ajalah... atasan juga manusia, bawahan juga manusia... Sementara sebagai bawahan, this might help you: berprasangka baik! Kembali lagi ke pendapat seorang teman di atas, it's just a job... Mengingat "kalimat cinta" seorang teman dulu, "biarkan ia dalam genggamanku, bukan dalam hatiku"

So, gimana komentar para atasan? Sharing dong dilema kalian... :p

Friday, October 26

Yang terlewat

Harapan yang mengiringi Marhaban ya Ramadhan terlewatkan
Ied Mubarak beserta Taqobballahu minna wa minkum pun tidak terucap
Apalagi I'm going to Pesta Blogger 2007... siapa saya?

I think therefore I am, Cogito Ergo Sum
Di balik tag One at a time, blog ini juga mengusung hasrat frase di atas
Melalui tulisan di blog yang tidak ramai ini, setidaknya saya ada

Apa daya, hasrat menulis terkubur oleh kewajiban yang dari hasil menyelesaikannya, saya mampu membeli susu Fathia. Ada beban moral sebagai PNS yang kerap dicemooh karena tidak mampu memberikan pelayanan prima. Hah, alasan! Sekali lagi alasan untuk tidak adanya posting baru dan tidak friendly-nya blog ini kepada para penyapa!

Thursday, August 30

Hope for the best, Prepare for the worst

Ketika di departemen ini penghuninya sedang harap-harap cemas akan teralisirnya suatu peraturan baru. Peraturan yang menimbulkan kontroversi di Senayan sana. Peraturan yang diharapkan meningkatkan profesionalisme para abdi pelayan publik ini. Peraturan yang tidak semua penghuni departemen ini mendukungnya, tentu. Peraturan baru tersebut dipandang hanya menguntungkan para pejabat yang dari jabatannya sebenarnya sudah banyak memperoleh kenikmatan dunia. Harga sebuah tanggung jawab katanya?

Ketika semua ini terjadi, harapan saya cuma satu. Ya 4JJI, just bring back my hubby to me please...